EKOLOGI KARYA SASTRA PARA SASTRAWAN LAMONGAN SEBAGAI KRITIK SASTRA FEMINISME
Kiki Astrea dan Anisa Ulfah
Universitas Islam Darul Ulum Lamongan
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini di fakuskan penemuan (1) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap Budaya (2) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap kritik sastra feminisme, dan (3) pengaruh ekologi karya sastra terhadap ecofeminisme. Data dalam penelitian ini berupa data tentang (1) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap ekologi Budaya (2) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap kritik sastra feminisme, dan (3) pengaruh ekologi karya sastra terhadap ecofeminisme. Sumber data diperoleh dari dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan teknik interaktif. Validasi data menggunakan triangulasi, baik triangulasi teori, data, dan metode. Hasil temuan penelitian diharapkan dapat dideskripsikan meliputi: (1) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap ekologi Budaya (2) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap kritik sastra feminisme, dan (3) pengaruh ekologi karya sastra terhadap ecofeminisme.
Abstract
The purpose of this research was to find out (1) the ecological effect of literary works on culture (2) the ecological effect of literary works on literary criticism of feminism, and (3) the ecological influence of literary works on ecofeminism. The data in this study are in the form of data about (1) the ecological effect of literary works on cultural ecology (2) the ecological effect of literary work on literary criticism of feminism, and (3) the ecological influence of literature on ecofeminism. Data sources are obtained from documentation and interviews. The data collection techniques are carried out with documentation and interviews. Data analysis techniques use interactive techniques. Data validation uses triangulation, both triangulation of theories, data, and methods. The findings of the study are expected to be described include: (1) The ecological effects of literary works on cultural ecology (2) The ecological effects of literary works on literary criticism of feminism, and (3) the ecological influence of literary works on ecofeminism.
Kata Kunci : EKOLOGI , KRITIK SASTRA FEMINISME, KARYA SASTRA, dan SASTRAWAN
PENDAHULUAN
Karya sastra adalah suatu bentuk tulisan yang indah dan bermanfaat bagi pembaca dan merupakan hasil kreativitas pengarang dalam mencermati realitas (Sutardi, 2011 :1-2). Pendapat lain mengatakan bahwa karya sastra tidak dapat lepas dari unsur pengarang, masyarakat, dan pembaca. Karya sastra dapat merupakan potret kehidupan masyarakat (Sariban, 2009: 7). Berkaitan dengan upaya memahami dan mengungkap hubungan pengarang dengan fakta dan realitas sosial, imajinasi kreativitas pengarang, serta nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah teks karya sastra, dalam penelitian ini dipilih karya besar dari sastrawan Lamongan sebagai objek penelitian dengan menggunakan pendekatan ekologi sastra berwawasan feminism (ecofeminism). Pendekatan ini diharapkan dapat mengungkap pengaruh pengaruh ekologi yang mempengaruhi para sastrawan Lamongan yang terdapat dalam teks sastra. Penelitian ini juga diharapkan dapat mengungkap kebesaran pengarang yang memiliki karakter dalam kepengarangannya dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu, tugas dalam penelitian sastra tidak sekadar harus menafsirkan apa saja yang dipandang aneh dalam karya, melainkan harus memberikan penilaiaan pertanggungjawaban. Penelitian sebaiknya mampu memberikan evaluasi terhadap karya sastra sampai proses penciptaannya. Dari sini akan muncul pula karya sastra yang bermutu dan manakah karya sastra yang “kacangan” (Endraswara, 2006:11).
Berkaitan dengan kualitas sebuah karya sastra Luckas menegaskan persoalan yang mendasar dari karya sastra modernis adalah hilangnya totalitas. Totalitas yang hilang membuat karya sastra modernis gagal dalam menciptakan tipe atau karakter. Sastrawan besar adalah seorang pengarang yang hasil karyanya berhasil melahirkan “karakter kemanusian” yang abadi. Tipe atau karakter yang dimaksud adalah suatu bentuk figuratif yang menunjukkan kualitas esensi pemikiran yang terdalam suatu zaman. Sastrawan yang hebat adalah pengarang yang mampu menghasilkan karya keturunan Homer, yaitu sastrawan yang mampu menggambarkan dunia alamiah mereka dan membagikan kekuatan pengalaman hidup, serta evolusi masyarakat tempat pengarang itu hidup (Anwar, 2010: 54).
Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menafsirkan pengaruh ekologi karya sastra terhadap kritik sastra feminisme yang ada dalam karya sastra sastrawan Lamongan terhadap pembaca serta budaya.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode kualitatif memberikan perhatian terhadap data alamiah, data dalam hubungannnya dengan konteks keberadaannya. Cara-cara itulah yang mendorong metode kualitatif dianggap sebagai multimetode sebab penelitian pada gilirannya melibatkan sejumlah besar gejala social yang relevan. Penelitian ini juga menggunakan metode analisis isi (Content analysis). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kritik sastra feminis.
TEORI DAN PEMBAHASAN
Karya sastra sebagai sebuah kreativitas memiliki pola-pola yang dianggap oleh masyarakat sebagai sistem. Pada kaitan ini, Teeuw (1983:2) mengungkapkan bahwa sastra berada di antara ‘inovasi dan konvensi’. Inovasi dari karya sastra terletak pada hasil kreativitas pengarang dalam memahami realitas sebagai fenomena. Adapun konvensi terletak pada hakikat yang melekat pada karya sastra dengan adanya sistem yang melingkarinya. Seorang menulis karya sastra akan terikat pada karya-karya terduhulunya yang telah diyakini oleh masyarakat sebagai sastra sembari memunculkan beberapa inovasi-inovasi, baik pada isi maupun bentuk. Adanya pola-pola di dalam karya sastra yang menjadikan munculnya studi sastra untuk memahami secara menyeluruh dengan adanya sifat-sifat yang melekat. Cara paling mudah untuk memahami yang tergolong sastra dan bukan sastra, yakni dengan membedakan pada sisi bahasa yang digunakan. Karya sastra selalu menggunakan bahasa sebagai medium untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Dalam praktiknya, ada perbedaan antara bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang digunakan di dalam karya sastra.
Bahasa sehari-hari lebih digunakan untuk menjalin berkomunikasi, sedangkan bahasa di dalam sastra sebagai sistem tanda yang memiliki unsur saling terikat. Manusia menggunakan bahasa dalam rutinitasnya untuk menjadikan kesamaan persepsi dengan orang lain: antara harapan, keinginan dan pengetahuan tersampaikan melalui bahasa yang digunakan berdasarkan kesepakatan kebahasaan. Bahasa di dalam sastra mewujud tidak dalam kerangka itu, melainkan sebagai tanda berdasarkan kecermatan pengarang dalam memahami gejala sosial. Bahasa di dalam sastra sengaja dibuat lebih mengharukan dan menimbulkan suasana tertentu yang disesuikan dengan makna yang akan disampaikan. Selain itu, bahasa sastra cenderung ambiguitas dan homonim, serta memunculkan asosiasi dengan sangat konotatif ( Wellek dan Warren, 1993:15). Cara-cara ini dimaksudkan untuk mewujudkan hubungan yang berimbang antara etika dan estetika di dalam sastra sehingga sering dikatakan bahwa bahasa sastra ditulis dengan penuh kesadaran karena setiap kata yang tertera memiliki makna tersendiri. Hal ini sangat berbeda dengan bahasa sehari-hari yang muncul untuk mencari persepsi yang sama, yang muncul tidak dalam kerangka kesadaran, tapi yang terpenting terwujudnya kesamaan persepsi itu sendiri.
Ekologi Sastra
Istilah Ekologi sastra berangkat dari pemahaman istilah Ekologi merupakan bentukan dari kata oikos dan logos. Dalam bahasa Yunani oikos berarti rumah-tempat tinggal: tempat tinggal semua perempuan dan laki-laki, hewan, tumbuhan, air, tanah, udara, dan matahari. Ekologi lebih bisa dipahami sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dan lingkungan hidup, mengaitkan ilmu kemanusiaan dan ilmu alam, bersifat multidisipliner (Yuwana, 1:2016). Ekologi sastra dapat diartikan sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara karya sastra dengan lingkungan (ecology) yang mempengaruhi karya sastra tersebut. Pengaruh sebuah lingkungan dimana pengarang itu berada adalah suata permasalahan yang wajar. Oleh karena, pengarang akan selalu dipengaruhi oleh subyek kolektif di mana pengarang itu hidup dalam suatu lingkungan. Baik lingkungan budaya, politik, system social, ekonomi dan lain sebagainnya.
Ecofeminisme
Konstruksi pemikiran ekologi feminism berangkat dari terminology ecofeminism dimunculkan oleh francoise d’Eaubonne dalam sebuah bukunya yang berjudul (feminism dan kematian). Buku yang mengupas tentang perempuan dan persoalan ekologi dikaiatkan secara multidimensional (Yuwana, 2016:168). Gerakan feminism dan ekologi mempunyai tujuan yang saling memperkuat. Keduanya hendak membangun pandangan terhadap dunia dan praktiknya yang tidak berdasarkan dominasi tertentu.
Feminisme lahir dengan tujuan mencari keseimbangan antara laki-laki dengan perempuan. Dengan lahirnya gerakan feminisme ini, masyarakat mulai terbuka dan sadar akan kedudukan perempuan yang selama ini inferior. Gerakan feminisme barat yang diwarnai oleh tuntutan kebebasan dan persamaan hak agar para perempuan dapat menyamai laki-laki dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan kekuasaan politik. Kini telah banyak perempuan yang masuk ke dunia maskulin dan berkiprah bersama-sama laki-laki. Oleh karena itu, banyak orang awam melabel feminisme dengan negatif. Kata feminis selalu dilekatkan dengan berbagai stereotipe negatif, misalnya perempuan yang dominan, menuntut, galak, mencari masalah, berpenampilan buruk, tidak menyukai laki-laki, lesbian, perawan tua (lajang), sesat, sekuler, dan sebagainya (Fakih, 2005:74). Label negatif ini tidak hanya diberikan oleh laki-laki, namun juga kaum perempuan sendiri yang kurang berwawasan.
Kritik Sastra Feminisme
Kritik sastra feminis adalah sebuah kritik yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya sastra dan kehidupan manusia. Kritik sastra feminis merupakan salah satu ragam kritik sastra yang memanfaatkan teori feminisme dalam menginterpretasi dan memberikan evaluasi terhadap karya sastra (Wiyatmi, 2012 : 1). Menurut Endraswara (2013 :149) untuk meneliti karya sastra dari aspek feminis, peneliti perlu membaca teks sebagai wanita (reading as woman) dalam istilah Culler. Lebih jauh, konsep yang ditawarkan Culler itu pada dasarnya dapat dimasukkan ke dalam kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis bukan berarti pengkritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, juga bukanlah kritik tentang pengarang perempuan. Arti sederhana yang dikandungnya ialah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan (Sugihastuti dan Suharto, 2015:19). Untuk menjelaskan kritik sastra, ia mengibaratkan sebagai sebuah metofora quilt yang dibangun dan dibentuk dari potongan-potongan kain yang lembut. Metofora ini dapat dikenakan sebagai metafora pengertian kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis diibaratkan sebagai alas yang kuat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat secara sadar membaca karya sastra sebagai perempuan.
HASIL PENELITIAN
Pengaruh ekologi karya sastra terhadap Budaya.
Teks sastra yang menunjukkan keterpengaruhan ekologi karya sastra terhadap budaya tampak pada karya A. Zaini dalam kumpulan Novel Mahar Cinta Berair . Menceritakan bagaimana seorang gadis merasa tidak mendapatkan keadilan cinta dengan laki-laki pujaan. Ia harus terpaksa memendam rasa cinta atas ketidakadilan persepsi perempuan di masyarakat.
“Baiklah, Bu. Saya akan memakai kemeja putih ini, tetapi ada syaratnya,” kata Royyan.
“Apapun syaratnya akan saya turuti,”Sanggup Leni.
“setelah saya memakai baju putih ini, saya harap bu Leni tidak membuka-buka lagi peristiwa yang telah lewat. Bu Leni jangan mengungkit lagi.....” (Zaini, MHCBM:106)
Begitu juga dalam kumpulan puisi sungai asal karya Pringgo HR. Yang berjudul Wanita, dalam puisi ini mendiskripsikan bagaimana sebenarnya perempuan perkasa itu, pengaruh nilai budaya Jawa, Ajaran Agama, dan roman klasik sebagi daya ungkap oleh penulis.
“ Apa yang harus kukata tentang wanita
Kecuali hawa, hajjar, masyitoh, khotijah, aisyah,
Fatimah, rabiah, cleopatra
Madam curie, kartini,
Fatmawati yang menjahit bendera
Atau ibu dan istri yang menjahit harihariku” (Pringgo HR. SA.:44)
Pengaruh ekologi karya sastra terhadap kritik sastra feminisme.
Teks sastra yang memengaruhi kritik sastra feminisme tertuang pada puisi karya Pringggo HR (46:2007) yang berjudul Elisa, dalam teks ini wanita digambarkan sebagai mahluk yang lemah yang harus dijagai lelakinya serta disajikan apa yang menjadi keinginannya. Dalam kehidupan nyata, wanita memiliki postur yang lebih kecil daripada seorang laki laki, namun dalam segi prestasi serta menjaga diri tidak bisa dipandang sebelah mata lagi.
Elisa
Yang kujagai di setiap tidurku
Aku bergelantung pada gegaring ranting
Untuk kuldi yang kau mita
Meski aku sadar,
Kita akan terusir dari tempat ini
Adat tak memboleh memetik bahkan memakannya
Itu buah keramat
Seperti adam
Luka pertama
Tapi kesetiaan yang tak pernah sia sia
Kepada hawa
Elisa, kutukan yang membuat kita terbuang
Telanjang
Kita tutupi dengan lembar daun kering
Yang rontok dari sisa kecupan angin
Di kemarau ini
Tak usah sesal menubi rasamu
nikmati saja seperti jarum waktu yang berdetak
perlahan memutar hari hari
merasai setiap pori pori keringat
cintakasih
dan membikininya abadi
luka pertama
mereka
karena kesetiaan kita yang tak pernah sia sia
(sukodadi, 20 feb 2005)
Pengaruh ekologi karya sastra terhadap ecofeminisme.
Teks sastra yang menunjukkan pengaruh ekologi karya sastra terhadap ecofeminisme tertuang dalam novel (dazedlove-Rodli, 29:2006). Dalam teks ini menunjukkan bahwa cewek (wanita remaja) akan berbaik hati itu tandanya sudah terperangkap pada sikap romantis seorang laki-laki. Yang artinya si cewek sudah mulai jatuh cinta. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu seorang wanita yang sedang jatuh cinta akan bersikap baik kepada orang yang dicintainya.
“im sorry, lupa aku. Aku tadi malam capek ketiduran gak sempat buat telur mata kerbau. Juga gara-gara aku ingat apa yang kamu ungkap. Cewek yang sedang berbaik hati pada kamu itu tandanya sudah masuk dalam perangkat romantisnya kamu”
“mati aku, bisa bisa aku di plonco sama panitia. Ah, Hima jangan bergurau!”
“bukankah yang kamu ungkapkan tadi malam itu serius? Aku juga serius dong biar balance. Kan kasihan kalau Rota bersikap srius kemudian aku tanggapi dengan main-main, ya kan?”
Teks lain juga muncul dalam karya sastra karya (Sariban, PT;3). Teks tersebut menggambarkan seorang wanita yang suka memakai perhiasan untuk memamerkannya kepada orang lain. Selain digambarkan didalam teks sastra, fenomena ini juga muncul dalam kehidupan sehari-hari.
“Mungkin juga karena lantaran leher sang istri itu menyebabkan ptak istri kepala desa berpikir keruh. Apalagi didukung pemandangan saat arisan dikecamatan. Hampir semua istri kepala desa menyelipkan emas disekujur tubuhnya....”
SIMPULAN
Berdasarkan temuan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian terhadap karya sastra yang ditulis oleh sastrawan Lamongan yang bermuatan ecofeminism dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, (1) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap ekologi Budaya (2) Pengaruh ekologi karya sastra terhadap kritik sastra feminisme, dan (3) pengaruh ekologi karya sastra terhadap ecofeminisme. Temuan tersebut muncul dikarenakan tema-tema karya sastra yang ditulis sastrawan Lamongan syarat memberikan pengaruh penulis terhadap penggolongan ecofemenism.
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1981. The Mirror and The Lamp. Oxford: Oxford University Press.
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS.
Fakih, Mansour. 2013. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Harmaji.2007: Sungai Asal (antologi sajak). Pustaka Pujangga; Lamongan
Murtadho, Rodhi.2004. Kembang Sepatu. (antologi cerpen). Pustaka Ilalang. Lamongan
Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
______________. 2015. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rodli, TL. 2006. Dazedlove (novel). Pustaka Ilalang, Lamongan
Sariban. 2009. Teori dan Penerapan Penelitian Sastra. Surabaya: Lentera Cendikia.
Sariban, 2001. Parade Topeng (Antologi Cerpen). FKIP Unisda Lamongan
Sugihastuti dan Suharto. 2015. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutardi. 2011. Apresiasi Sastra: Teori, Aplikasi, dan Pembelajarannya. Lamongan: Pustaka Ilalang.
Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Ombak
Wardani, Nugraheni Eko. 2009. Makna Totalitas dalam Karya Sastra. Surakarta: UNS Press.
Yuwana Sudikan, Setya. 2001. Metode Penelitian Sastra Lisan. Surabaya: Citra Wacana
Yuwana Sudikan, Setya. 2016. Ekologi Sastra. Surabaya:Pustaka Ilalang.
Zaini. A. 2015. Mahar Cinta Berair Mata (novel). Pustaka Ilalang, Lamongan
Showing posts with label PENELITIAN. Show all posts
Showing posts with label PENELITIAN. Show all posts
Wednesday, October 10, 2018
Tuesday, October 2, 2018
NILAI BUDAYA PADA NOVEL CENTHINI:40 MALAM MENGINTIP SANG PENGANTIN KARYA SUNARDIAN WIRODONO (KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA)
NILAI BUDAYA PADA NOVEL CENTHINI:40 MALAM MENGINTIP SANG PENGANTIN KARYA SUNARDIAN WIRODONO (KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA)
Kiki
Astrea, M.Pd.
Universita
Islam Darul Ulum Lamongan
astrea.kiki@yahoo.com
Abstract
Literary antropology
is the study of literature with human relevance. This study examines the
culture of Jawa in the novel Centhini:40
Night peek of the Wedding. . In addition, this study also seeks the of
value customs, social organisation, and myth in the novel Centhini:40 Night peek of the Wedding. The research method using
descriptive analytical methof of
hermeneutics. Source of data used is novel Centhini:40
Night Peek of the Wedding by. Sunardian Wirodono. The data used is in the
form of words, phrases, clauses, sentences and paragraphs in the novel. The
collection of data by specifying the object and the analysis data. Metode
identification to the preparation, gathering the data that has been selected.
Last group the data and data analysis. Value customs in this research namely
the myth of human destiny is determined by heredity, meaning thet the fate of a
person accordance with the offspring, if the parents are kings and will he
became king, if his parents were slaves than he will be a slave.
Abstrak
Antropologi sastra
merupakan studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia. Penelitian ini
berusaha mengkaji kebudayaan Jawa dalam novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang
Pengantin. Selain itu, penelitian ini akan mendeskripsikan nilai-nilai dalam
kebiasaan atau adat istiadat, pranata sosial, serta mitos dalam novel Centhini:
40 Malam Mengintip Sang Pengantin. Pendekatan deskriptif analitik hermeneutic.
Sumber data yang digunakan adalah novel Centhini: 40 Malam Mengintip Sang
Pengantin Karya Sunardian Wirodono. Data yang digunakan berupa kata, frasa,
klausa, kalimat dan paragraph dalam novel. Pengumpulan data dengan menentukan
objek dan dengan identifikasi data. Metode analisis data dengan mengolah,
mengumpulkan data dan analisis data yang akan disajikan. Nilai-nilai budaya
yang muncul adalah mitos nasib manusia ditentukan berdasarkan keturunan, jika
orang tuanya adalah raja maka dia akan menjadi raja, jika orang tuanya adalah
budak maka dia akan menjadi budak.
Kata
Kunci: Antropologi Sastra, Nilai Budaya, Centhini:40 Malam Mengintip Sang
Pengantin Karya Sunardian Wirodono.
PENDAHULUAN
Kebudayaan menjadi hal yang
menarik dalam karya sastra karena nilai keindahannya. Kebudayaan berasal darii
kata sangsekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi
dan akal. Dengan demikian kebudayaan diartikan: “hal-hal yang bersangkutan
dengan akal” (Koentjoroningrat, 2009:146). Kebudayaan sangat erat hubungannya
dengan sastra Indonesia. Hamper seluruh sastra yang popular berisi kebudayaan
Indonesia, maupun perbandiangan antara kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan
asing.
Kebudayaan Indonesia, khususnya
kebudayaan Jawa sangat menarik untuk dilakukan penelitian berdasarkan
antropologi sastra. Kebudayaan Jawa sedikit banyak tidak ditinggalkan oleh
masyarakat, sehingga perkembangannya sangat menarik untuk dilakukan sebuah
penelitian. Antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan
relevansi manusia (anthropos). Dengan melihat pembagian antropologi menjadi dua
macam, yaitu antropologi fisik dan antropologi kultural, maka antropologi
dibicarakan dalam kaitannya dengan antropologi kultural dengan karya-karya yang
dihasilkan manusia, seperti, bahasa, religi, mitos, sejarah, hukum,
adat-istiadat, dan karya seni khususnya karya sastra.
Hubungan antropologi sastra dengan
kebudayaan sama seperti sastra dengan budaya. Karya sastra selalu berhubungan
dengan budaya. Setiap karya sastra selalu mengangkat budaya sebagai fokus dalam
cerita, baik dalam cerpen, novel, drama yang terjadi pada zaman dulu maupun
sekarang.
Penelitian menggunakan kajian
antropologi sastra pernah dilakukan oleh Charis Rachmawati. 2008. Dengan
judul Mitos dan enkulturasi dalam novel
Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan pendekatan antropologi sastra. Universitas
Semarang. Penelitian ini mengkaji makna ceritera dari kombinasi dan analisis
miteme, hasil penelaah masyarakat terhadap mitos. Berbeda dengan penelitian
tersebut.
Dengan demikian penelitian ini
memiliki tiga rumusan masalah: 1) bagaimana struktur Novel Centhini:40 Malam
Mengintip sang Pengantin Karya Sunardian Wirodono?; 2) bagaimana bentuk budaya
masyarakat Jawa dalam novel Centhini:40 Malam Mengintip Sang Pengantin Karya
Sunardian Wirodono?; dan 3) bagaimana nilai budaya masyarakat Jawa dalam Novel
Centhini:40 Malam Mengintip?. Sang Pengantin Karya Sunardian Wirodono.
Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat dan melestarikan kebudayaan Jawa.
TEORI
Antropologi sastra adalah
analisis dan pemahaman karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan. Dalam
perkembangan berikut definisi tersebut dilanjutkan dengan pemahaman dalam
perspektif kebudayaan yang lebih luas. Perkembangan yang dimaksud juga mengikuti
perkembangan sosiologi sastra yang semula hanya berkaitan dengan masyarakat
yang ada dalam karya sastra kemudian meluas pada masyarakat sebagai latar
belakang penciptaan sekaligus penerimaan. Karya sastra dengan demikian bukan
refleksi, bukan semata-mata memantulkan kenyataan, melainkan merefraksikan,
membelokkannya sehhingga berhasil mengevokasi keberagaman budaya secara lebih
bermakna. Dalam hubungan ini akan terjadi hubungan timbal bali, keseimbangan
yang dinamis antara kekuatan aspek sastra dengan antropologi itu sendiiri.
Bahkan, dalam analisis yang baik, seolah-olah tidak bias dikendalikan lagi
apakah yang dibicarakan termasuk satra atau antropologi (Ratna, 2011:31)
Isu mengenai antropologi sastra
pertama kali muncul tahun 1977 Poyatos (dalam Ratna, 2011:33) melalui kongres “
Folklor and Literary antropologi” yang berlangsung di Calcutta. Lahirnya model
antropologi sastra dipicu oleh tiga sebab utama, yaitu: 1) baik sastra maupun
antropologi menganggap bahasa sebagai obyek penting; 2) kedua disiplin
mempermasalahkan manusia budaya; dan 3) kedua disiplin juga mempermasalahkan
tradisi lisan, khususnya cerita rakyat dan mitos.
Karya sastra dengan masalah nilai
budaya sangat menarik dianalisis dari segi antropologi sastra. Berbagai
analisis antropologi sastra yang dilakukan Levi-Strauss didasarkan model linguistik
jelas menandai hubungan yang tak terpisahkan antara bahasa, sastra dan budaya.
Salah satu aspek kebudayaan yang menarik minat para pemerhati antropologi sastra adalah arkepite dan atau citra primordial.
Menurut antropologi, “kebudayaan”
adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam
kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dalam belajar. Dalam hal
tersebut berarti seluruh tindalakan manusia adalah ‘kebudayaan’ karena hanya
sedikit tindakan manusia dalam kehidupan masyarakat yang tidak perlu dibiasakan
dengan belajar, yanitu hanya beberapa tindakan naluri, beberapa reflex,
beberapa tindakan akibat proses fisiologi, atau kelakuan membabi buta. Bahkan berbagai
tindakan manusia merupakan kemampuan naluri yang terbawa dalam gen bersama
kelahirannya (seperti minum, makan atauberjalan dengan kedua kakinya), juga
dirombak menjadi tindakan kebudayaan (Koentjoroningrat, 2009:144-145).
Sebagaimana kebudayaan Indonesia
lainnya, masyarakat Jawa memiliki aturan dalam bermasyarakat dan dalam mengatur
kehidupan sosialnya, baik dengan tradisi-tradisi yang bersifat religious maupun
kejawen. Tradisi yang bersifat religious banyak ditemui dan masih dilakukan
oleh masyarakat kejawen. Seperti, sedekah bumi, sedekah laut, ngeruwatan, dan
upacara-upacara lainnya. Masing-masing tradisi memiliki nilai budaya yang
sangat penting dalam kehidupan masyarakat budaya.
Nilai budaya merupakan
konsep-konsep dalam pikiran sebagai warga masyarakat mengenai hal-hal yang
mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Kesadaran itu mempengaruhi sikap dan
perilakunya dalam kehidupan. Nilai-nilai itu secara tidak sengaja akan
terbentuk dalam masyarakat dan nilai-nilai itu akan dijadikan panutan dari satu
generasi ke generasi berikutnya sehingga dianggap menjadi sesuatu yang sangat
berarti dan bernilai.
Sistem nilai budaya menurut
Djamaris (1993: 2) dapat dikelompokkan berdasarkan lima kategori hubungan
manusia yaitu: (1) nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan, (2) nilai
budaya dalam hubungan dengan alam, (3) nilai budaya dalam hubungan manusia
dengan manusia lain, (4) nilai budaya dalam hubungan manusia dengan masyarakat,
dan (5) nilai budaya dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitik kualitatif. Penelitian menurut Jabrohim (2002:1) adalah
suatu kegiatan atau proses semantic untuk memecahkan masalah dengan dukungan
data sebagai landasan mengambil kesimpulan. Penelitian ini menggunakan metode
hermeneutika dan deskriptif analitik. Metode analisis data dengan mengolah,
mengumpulkan data dan analisis data yang akan disajikan. Data-data yang telah
dijelaskan sebelumnya dan akan ditarik sebuah simpulan dari temuan-temuan yang
telah ditemukan dari proses analisis. Prosedur ini mencirikan bahwa penelitian
ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah
Novel Centhini:40 Malam Mengintip Sang pengantin Karya Sunardian Wirodono. Data
penelitian ini adalan kata, Frasa, klausa, kalimat dan paragraph dalam novel
Centhini:40 Malam Mengintip Sang Pengantin.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Struktur Novel
Wajah
Sultan Agung hanyalah kemarahan. Beliau ingin menghancurkan Kesunanan Giri.
Karena Sunan Giri adalah keturunan seorang Hindu. Sedangkan Sunan Giri ingin
mempertahankan kesunanan hingga titik penghabisan, namun Amongraga yang awalnya
bernama Jayengresmi dan kedua adiknya sama sekali tidak bisa membantah.
Kesunanan Giri-pun runtuh oleh Mataram, Sunan Giri ditangkap dan dibawa ke
Mataram. Sedangkan Jayengresmi, Jayengsari dan Rancangkapti melarikan diri dan
berpisah diperjalanan. Jayengresmi akhirnya sampai di desa Wanamarta. Dia
berguru pada seorang kyai sampai ia benar-benar menjadi seorang kyai dan ia
segera meminta ijin pada gurunya untuk mencari kedua adiknya, yaitu Jayengsari
dan Rancangkapti. Untuk itu dia mengganti nama menjadi Amongraga. Gurunya
memerintahkan untuk menikahi putri pembesar desa Wanamarta, yaitu Tambangraras.
Setibanya di Wanamarta, Amongraga menemui kyai Bayi Panutradan keluarga besar
Tambangraras untuk meminangnya. Ki Bayi Panutra adalah ayahanda Tambangraras,
beliau merupakan pembesar desa Wanamarta. Tambangraras adalah anak sulung dari
tiga bersaudara, dan dialah satu-satunya yang belum menikah.
Amongraga
dan Tambangraras menikah, sementara centhi ditugaskan untuk menemani
Tambangraras dan menjaga malam-malam pengantin sampai 40 malam dan melaporkan
apa saja yang terjadi pada malam tersebut. Apakah pengantin sudah melepas
keintiman besama atau belum.
Centhini,
demikian orang-orang menyebutku. Dan jangan tanyakan mengapa begitu, karena
akupun hanya mendapatkan kesia-siaan ketika menanyakannya. Yang pasti dan
mengki dari sana aku berasal. Aku seorang centhi, emban, alias PRT, pembantu
rumah tangga. Aku seorang perempuan yang masih remaja. Sangat remaja. Aku
mendapatkan tugas yang berat, tetapi istimewa, apa itu? Menunggui malam pertama
Denayu Tambangraras. Kalau boleh aku bilang, Denayu Tambangraras sangat
bergantung padaku.
Ketika
orang-orang bergembira merayakan pernikahan, Centhini justru harus bertugas
menjaga malam pengantin. Tambangraras berparas ayu, kulitnya lenir kuning dan
memiliki tubuh yang bagus. Banyak lelaki yang datang melamar namu ditolaknya,
ia bukan memilih lelaki yang kaya dan tampan, tetapi yang mampu menyayanginya
sampai mati. Syekh amongraga pun tampan rupanya. Tubuhnya sempurna dan enak
dipandang. Belum lagi tutur katanya santun. Budi pekertinya halus, rendah hati,
namun berpengetahuan luas.
Malam
pertama pengantin. Ketika orang-orang bergembira ria, nyanyi-nyanyi dan terbangun
di pendapa, juga halaman, para ronggeng menari menggoda lelaki, aku harus
disiksa menunggui sang pengantin. Para perempuan sibuk menyiapkan makanan dan
minuman, sedangkan para lelaki sibuk berbincang. Sementara centhini menunggui
pengantin hingga pagi. Malam kedua para
tamu berdatangan, mereka utusan dari Gresik, Tuban dan Rembang dengan membawa ubarampe dan bingkisan uang sebesar 84 anggris lebih tiga seka. Itu jumlah yang cukup besar, dan cukup untuk membeli sepuluh
ekor sapi. Malam ketiga gamelan ditabuh, pengantin pun diunduh oleh sanak
saudara pengantin lelaki. Pasukan dapur pun sibuk menyiapkan hidangan aneka
yang serba enak. Pesta unduh pengantin dihadiri para tetamu dan menyumbang ubarampe. Sampai selesainya acara dan
malam ini pun sepasang pengantin belum melepas hasrat mereka. Malam berikutnya
acara unduh mantu pindah ke rumah adik Ki Bayi, yaitu Ki Panukma, dilanjutkan
di rumah Ki Panamar, Ki Kulawirya, Ki Penghulu Basorudin. Dalam acara unduh
pengantin seperti ini biasanya bias jadi arena jor-joran. Pamer kekayaan, pamer kuasa, pamer pengaruh.
Malam-malam
berikutnya pun sama, Centhini menunggui pengantin hingga suara adzan subuh
berkumandang. Mereka berjamaah, kemudian mengadangan ceramah dan mengaji
bersama. Amongraga selalu memberikan ceramah bagi seluruh santri. Tambangraras
pun menunggui suaminya. Tambangraras tetap seperti dulu, tak berubah
sedikitpun. Dia terlihat lebih cantik. Para gadis yang telah menikah pastilah
berubah menjadi lebih dewasa.
Hari-hari
dalam keluarga Ki Bayi Panutra menjadi harmonis dan penuh dengan keberkahan.
Centhi dan para santri menjadi semakin rajin berjamaah setelah kehadirah syekh
Amongraga. Bukan hanya itu, bahkan masyarakat luas yang biasanya memenuhi
jalanan dan warung untuk bermain kartu, sekarang berbondong-bondong berjamaah
shalat, dan suara adzan terdengar bersahut-sahutan. Setiap selesai mengaji,
santri dan centhi berebut meminum minuman sisa Syekh Amongraga dan mencium
tangannya saat berjabat tangan. Hal itu dipercaya mendatangkan keberkahan bagi
kehidupan manusia.
Upacara
unduh mantu terus dilakukan sampai 40 hari, bergantian dari keluarga kedua
pengantin. Pada bulan maulud merupakan bulan yang baik untuk mengadakan acara
seperti unduh mantu, hitanan, sunatan. Di desa Wanamarta hajatan bulan ini berlangsung
seperti bergilir. Pada bulan inilah dianggap bulan penuh berkah, karena
merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Setiap
malam centhi menunggui pengantin, namun taka da satu ceritapun yang dapat
diceritakan. Setiap pagi dia hanya melihat seprei putih yang masih terlihat
bersih putih. Centhini juga mengagumi Syekh Amongraga, dia berharap mendapatkan
suami seperti Syekh Amongraga. Selagipun ada orang yang melamanya pasti bukan
pria seperti Syekh Amongraga.
Syekh
amongraga merasa nyaman menceritakan kehidupan masa lalunya kepada Centhini.
Bahkan segala urusan kepergiannya yang setiap malam dirundingkan bersama Gothak
dan Gathik, yaitu pendamping Syekh Amongraga saat di kesunanan Giri. Mereka
yang membantu Amongraga dalam mencari kedua adiknya suatu hari nanti. Sementara
itu Tambangraras hanya diberikan siraman rohani yang dirasanya akan memberikan
keringanan batinnya saat ditinggalkan Amongraga.
Sementara
Centhini tidak mengindahkan cerita amongraga, dia masih berkonsentrasi
menunnggui kedua mempelai, apakah akan terjadi malam pengantinyang indah mala
mini. Beberapa hari ini Centhini selalu tertidur saaat menjaga pengantin,
karena pada malam hari ia sering didatangi Amongraga. Dalam hati Centhini,
wanita yang sudah melepas keperawannya untuk suaminya pasti wajahnya akan
bersinar.
Pagi
itu setelah malam ke- 34, Denayu Tambangraras keluar dari kamar dengan wajah
yang pucat memeluk Centhini, mungkinkah terjadi peraduan yang indah semalam.
Dan benar saja wajah Tambangraras terlihat bersinar setelahnya. Hajatanpun
dimulai dengan harapan sang pengantin mendapatkan janin yang akan menjadi anak
sholeh.
Kebahagiaan
itu tidak berlangsung lama,karena pada suatu pagi, tiba-tiba Tambangraras
bertanya pada Centhini “Apakah kamu melihat Syekh amongraga?” seketika itu
Centhini berkata dalam hati “apakah ini sudah harinya?” semua orang panic
mencari Syekh Amongraga. Ki Bayi Panutra bertanya pada Centhini “Apakah selama
ini dia tidak pernah bicara apapun padamu?” Centhini bercerita bahwa Syekh
Amongraga pernah bercerita bahwa ini adalah hari dimana dia akan mencari kedua
adiknya. Tambangraras tak henti-hentinya menangis. Beginikah akhir verita itu,
dia mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan kematian.
Syekh
amongraga menitipkan surat untu Tambangraras “Niken, tambangraras, aku mohon
pamit padamu, karena mengabdi pada Hyang widi, tiada kekuatan yang mampu
menengahnya, kupergi berkelana, mencari dua saudara mudaku, yang berpencar
karena peperangan, ketika Mataram menyerang Kasunanan Giri. Entah dimana mereka
kini akupun tak mengerti. Dinda aku harap kau taqorrub pada Hyang widi, pasrah
menerima segala titah, jasadku biarlah serahkan pada allah, kepergianku ini
tidak lama…”.
Berdasarkan
cerita diatas, dapat disimpulkan struktur novel Centhini:40 Malam Mengintip
Sang Pengantin yaitu:
1. Tokoh :Syekh
Amongraga, Tambangraras, Centhini, Ki Bayi Panutra.
2. Setting : Kasunanan
Giri, desa Wanamarta.
3. Alur : dimulai dari
Kasunanan Giri kemudian menuju ke desa Wanamarta (alur maju)
4. Perwatakan: Syekh Amongraga
merupakan tokoh berwatak protagonis, dia adalah seorah ahli ilmu agama yang
pituturnya halus dan sopan. Tambangraras berwatak protagonis, dia adalah istri
Syekh amongraga yang patuh terhadap suaminya. Centhini berwatak protagonis,
pasrah terhadap nasib yang dimilikinya. Ki Bayi Panutra berwatak potagonis,
menyerahkan pesantren kepada Syekh amongraga.
5. Amanat: amanat yang
muncul ada lebih dari satu, yaitu hidup harus berserah diri kepada yang Maha
Kuasa. Sebagai seorang manusia, kita harus bertanggung jawab pada pekerjaan.
2.
Bentuk Budaya
a. Adat istiadat
Adat istiadat adalah
perilaku budaya dan aturan-aturan yang telah berusaha diterapkan dalam aturan
masyarakat. Indonesia kaya akan kebudayaan, sebagai contoh salah satu
peninggalan yang masih tampak pada masyarakat adalah adanya adat istiadat
(Purwadi, 2007:12)
1.
Adat
istiadat yang ada dalam novel Centhini 40 Malam ini adalah setelah melaksanakan
ijab qobul, selanjutnya dilakukan resepsi pernikahan. Dilanjutkan dengan unduh
mantu di kedua kelarga besar.
“Sedari pagi, di rumah
Ki Jayengraga sudah riuh-rendah. Hari ini, pengantin Syekh
Amongraga-Tambangraras akan diunduh-nya. Itu artinya, para pasukan dapur akan
bertempur kembali. Menyiapkan masakan aneka serba enak dan mewah” (CMMSP, 2011-77).
Dalam sebuah acara selalu ada hidangan mewah, diiringi
dengan suara tabuh gamelan, terbangan, dan ronggeng yang menggoda para tamu
lelaki.
“Ketika orang-orang
bergembira ria, nyanyi-nyanyi dan terbanagn di pendapa, juga halaman, para
ronggeng menari menggoda lelaki, aku harus disiksa menunggui sang pengantin.
Para perempuan sibuk menyiapkan makanan dan minuman, sedangkan para lelaki
sibuk berbincang. Sementara centhini menunggui pengantin hingga pagi” (CMMSP, 2011-50)
Unduh pengantin adalah upacara pengantin yang
dipestakan. Tetapi acara itu telah lama hilang, karena faktor ekonomi, karena
harus dilakukan secara bergantian dari kedua keluarga. Acara pernikahan
disertai dengan pranata yang sering dilakukan dengan kebudayaan Jawa 1) sungkem
pada ibu, 2) upacara resepsi, 3) pasrah pengantin pria, 4) prayagya pengantin
wanita, 5) ular-ular pemuka masyarakat, 60 wejangan sesepuh. (Purwadi,
2010;12-133).
2.
Hiasan
janur kuning pada pesta pernikahan
“Bukan hanya hiasan
janur kuning, tetapi aneka pajangan ditata begitu rupa, hiasa aneka kertas
mengitari pinggir-pinggir pendapa. Indah sekali” (CMMSP, 2011:149)
Pernikahan yang sarat akan budaya selalu
menggunakanan hiasan janur kuning, sebagai tanda hajatan pernikahan dalam
keluarga tersebut. Agar tetangga berdatangan memberikan doa. Ada berbagai macam
hidangan yang disuguhkan untuk tamu. Jodangan berisi berbagai macam
buah-buahan, makanan tradisional yang dibawakan oleh keluarga mempelai putra
dan sanakkeluarga kedua pengantin. Beberapa hal tersebut merupakan kewajiban sosial,
baik peserta pesta atau tidak harus mengikuti pesta, mulai persiapan hingga
berakhirnya bergantung kemampuan (Purwadi, 2007:244)
b. Pranata sosial
Pranata sosial adalah suatu
system tata kelakuan dalam hubungan yang berpusat kepada aktifitas aktivitas
untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus dalam masyarakat. http://sosiologismancis.blogspot.com//04/08/2017/pranata.acara. Pranata sosial yang
muncul yaitu Pranata keluarga dan pranata agama.
1.
Pranata
keluarga yang muncul yaitu seorang istri melayani suaminya, dalam keluarga
tidak boleh mengumbar aib keluarga, apalagi aib suami atau istri. Keluarga
adalah satuan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat. Satuan
kekerabatan yang muncul disebabkan adanya perkawinanatau keturunan.
“Jangan sekali-kali
berani berkata sembarangan, apalagi membantah. Karena itu akan membuat kita
kehilangan rasa hormat. Itu bukan ciri manusia yang mulia. Jangan pula membuka
rahasia rumah tangga kepada siapa pun, karena itu merendahkan derajat kita.
Serendah-rendahnya. (CMMSP, 2011-65).
2.
Pranata
agama yang muncul yaitu dilakukan shalat berjamaan setelah itu melakukan
pengajian bersama. Agama adalah ajaran atau system yang mengatur keimanan dan
keperibadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasaserta mencakup pula tata kaidah yang
berhubungan dengan pergaulan antarmanusi dan antara manusis dengan
lingkungannya.
“Sekarang, waktunya
kita semua kembali, adzan magrib telah memanggil. Nanti, habis isya’, semoa
kami mohonkan untuk datang kemari, sekali lagi untuk merasakan kebahagiaan sang
pengantin itu…” (CMMSP, 2011-116)
c. Mitos
Menurut Wellek dan
Warren (1995:243) Mitos adalah bagian dari ritual yang diucapkan, cerita yang
diperagakan oleh ritual. Dalam suatu masyarakat, ritual dilakukan oleh
pemuka-pemuka agama untuk menghindarkan bahaya atau mendatangkan keselamatan.
Ritual adalah ‘cara’ yang selalu dan setiap kali diperlukan, misalnya berkaitan
panen, kesuburan, inisiasi anak muda kedalam kebudayaan masyarakat dan
kematian. Tetapi dalam pengertian yang luas, mitos berarti cerita-cerita anonim
mengenal asal muasal alam semesta dan nasib serta tujuan hidup:
penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada anak-anak
mereka mengenai dunia, tingkah laku manusia, citraan alam dan tujuan hidup
manusia. Penjelasan-penjelasan ini bersifat mendidik.
Bentuk-bentuk mitos
dalam novel Centhini 40 Malam adalah:
1.
Mitos
Agama
a.
Bulan
Maulid adalah bulan yang baik untuk hajatan
“Acara unduh mantu
memang tidak semeriah di rumah Ki Jayengraga. Itu semua tentu tergantung pada
kemauan tuan rumah. Namun, karena ini juga bulan mauled, acara unduh pengantin
ini juga diisi dengan pengajian mauludan. Bulan ini adalah bulan kelahiran
kanjeng Nabi Muhammad. Bagi orang-orang Wanamarta, ada banyak acara menyambut
bulan ini.
Belum lagi, penduduk
desa Wanamarta juga meyakini bahwa ini adalah bulan baik untuk hajatan
keluarga. Seperti pengantin, tetesa, atau sunatan” (CMMSP, 2011:114-115)
b.
Orang
yang berilmu tinggi mendatangkan keberkahan. Syekh Amongraga (orang yang alim dan berilmu tinggi) setelah datang
ke desa Wanamarta, desa ini menjadi hidup, tidak ada orang yang berjudi, dan
suara adzan terdengar bersahut-sahutan.
“Perlahan, kehadiran
Syekh Amongraga dianggap merupaka berkah bagi Wanamarta. Ada banyak perubahan
terjadi, dan itu semua aku bias pastikan, karena pengaruh dari Syekh Amongraga”
(CMMSP, 2011:418)
c.
Kelahiran
dan kematian. Bahwa ada kehidupan yang diciptakan Tuhan pastilah ada kematian,
yaitu kembali pada Tuhan.
“Dalam tiga kali empat
puluh hari, alam arwah akan turun menjelma, mengetal dalam daging, dalam
pangkuan Rahim, dalam empat warna kehidupan. Karenanya dalam laku hidup ini,
segalanya mestinya dimengerti, dipelajari dan dikuasai.” (CMMSP, 2011:448)
2.
Mitos
Sosial
a.
Nasib
manusia ditentukan berdasarkan keturunan. Keturunan seorang pembesar akan
menjadi seorang pembesar. Keturunan seorang centhi akan menjadi seorang centhi
pula.
“ Karena orang tuaku,
tepatnya simbokku, hanyalah seorang centhi, seolah, nasib manusia telah
ditetapkan berdasarkan keturunan. Siapa orang tuanya, begitu pulalah anaknya”
(CMMSP, 2011:46)
b.
Malam
pertama pengantin harus dijaga agar tidak ada setan yang menggoda manusia.
Karena pada saat itu sepasang pengantin sedang beribadah, dan setan yang
membenci manusia akan menggoda manusia agar berbuat maksiat kepada Tuhan.
“Mereka percaya bahwa
malam pertama pengantin harus dijaga hingga subuh tiba. Agar selamat sejahtera.
Agar para iblis jalil laknat tidak mengganggu manusia. Karena itu, tidak hanya
dijaga dengan hiburan, agar setan terlena dan lupa pada tugas menggoda. Tetapi
juga dijagai dengan suluk dan mantra-mantra” (CMMSP, 2011:66)
3.
Nilai budaya
Sistem nilai budaya
menurut Djamaris (1993: 2) dapat dikelompokkan berdasarkan lima kategori
hubungan manusia yaitu:
a. Nilai budaya dalam
hubungan manusia dengan Tuhan.
Bahwa ada kehidupan yang diciptakan Tuhan
pastilah ada kematian, yaitu kembali pada Tuhan.
“Dalam
tiga kali empat puluh hari, alam arwah akan turun menjelma, mengetal dalam
daging, dalam pangkuan Rahim, dalam empat warna kehidupan. Karenanya dalam laku
hidup ini, segalanya mestinya dimengerti, dipelajari dan dikuasai.” (CMMSP,
2011:448)
b. Nilai budaya dalam hubungan dengan alam.
Hiasan janur kuning pada pesta pernikahan
“Bukan
hanya hiasan janur kuning, tetapi aneka pajangan ditata begitu rupa, hiasa
aneka kertas mengitari pinggir-pinggir pendapa. Indah sekali” (CMMSP, 2011:149)
c. Nilai budaya dalam
hubungan manusia dengan manusia lain.
Setelah melaksanakan
ijab qobul, selanjutnya dilakukan resepsi pernikahan. Dilanjutkan dengan unduh
mantu di kedua kelarga besar.
“Sedari
pagi, di rumah Ki Jayengraga sudah riuh-rendah. Hari ini, pengantin Syekh
Amongraga-Tambangraras akan diunduh-nya. Itu artinya, para pasukan dapur akan
bertempur kembali. Menyiapkan masakan aneka serba enak dan mewah” (CMMSP,
2011-77).
d. Nilai budaya dalam hubungan
manusia dengan masyarakat.
Syekh Amongraga (orang yang alim dan berilmu tinggi) setelah
datang ke desa Wanamarta, desa ini menjadi hidup, tidak ada orang yang berjudi,
dan suara adzan terdengar bersahut-sahutan.
“Perlahan,
kehadiran Syekh Amongraga dianggap merupaka berkah bagi Wanamarta. Ada banyak
perubahan terjadi, dan itu semua aku bias pastikan, karena pengaruh dari Syekh
Amongraga” (CMMSP, 2011:418)
e. Nilai budaya dalam
hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Keturunan seorang
pembesar akan menjadi seorang pembesar. Keturunan seorang centhi akan menjadi
seorang centhi pula.
“
Karena orang tuaku, tepatnya simbokku, hanyalah seorang centhi, seolah, nasib
manusia telah ditetapkan berdasarkan keturunan. Siapa orang tuanya, begitu
pulalah anaknya” (CMMSP, 2011:46)
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan tersebut
dapat disimpulkan bahwa: 1. Struktur cerita Centhini:40 Malam Mengintip sang
pengantin adalah Amongraga seorang Syekh yang menikahi Tambangraras.
Malam-malam pengantin merekaa ditunggui oleh seorang Centhini (pembantu) sampai
40 malam. 2. Bentuk budaya dalam novel CMMSP adalah a) adat istiadat, b)
pranata social, dan c) mitos. 3. Nilai budaya: a) Nilai budaya dalam hubungan
manusia dengan Tuhan. Bahwa ada kehidupan yang diciptakan Tuhan pastilah ada
kematian, yaitu kembali pada Tuhan. b) Nilai budaya dalam hubungan dengan alam.
Hiasan janur kuning pada pesta pernikahan. c) Nilai budaya dalam hubungan
manusia dengan manusia lain. Setelah melaksanakan ijab qobul, selanjutnya
dilakukan resepsi pernikahan. Dilanjutkan dengan unduh mantu di kedua kelarga
besar. d) Nilai budaya dalam hubungan manusia dengan masyarakat. Syekh
Amongraga (orang yang alim dan berilmu
tinggi) setelah datang ke desa Wanamarta, desa ini menjadi hidup, tidak ada
orang yang berjudi, dan suara adzan terdengar bersahut-sahutan. e) Nilai budaya
dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Keturunan seorang pembesar akan
menjadi seorang pembesar. Keturunan seorang centhi akan menjadi seorang centhi
pula. Berdasarkan penelitian ini, diharapkan dapat bermaanfaat bagi kebudayaan
Jawa. Serta dapat melestarikan kebudayaan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Djamaris, Edwar. 1993. Sastra Daerah di Sumatra: Analisis Tema, Amanat, dan
Nilai Budaya. Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.
Jabrohim. 2002. Metodologi Penelitian Sastra.
Yogyakarta: PT. Hanidita Graha Widya.
Koentjoroningrat.
2009. Pengantar Ilmu antropologi.
Jakarta:Rineka Cipta.
Purwadi, M. Hum. 2007.
Ensiklopedi Adat Istiadat Budaya Jawa.
Jogjakarta: Panji Pustaka
Purwadi, M.Hum, dan
Enis Niken. 2010. Upacara Pengantin Jawa.
Jogjakarta: Panji Pustaka
Rachmawati, Charis.
2008. Mitos dan enkulturasi dalam novel
Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan pendekatan Antropologi Sastra.
Universitas Semarang.
Ratna, Nyoman Kutha.
2011. Antropologi Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Wellek, Rene dan
Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan.
Jakarta:PT. Gramedia.
Wirodono, Sunardian.
2010. Centhini:40 Malam Mengintip Sang
Pengantin. Jogjakarya:DIVA Press.
ANALISIS STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS, MITOS, SIMBOL DAN FUNGSI LEGENDA GOA NGERONG DI KECAMATAN RENGEL KABUPATEN TUBAN BAGI MASYARAKAT SEKITARNYA (KAJIAN FOLKLOR)
ANALISIS STRUKTURALISME
LEVI-STRAUSS, MITOS, SIMBOL DAN FUNGSI LEGENDA GOA NGERONG DI KECAMATAN RENGEL KABUPATEN TUBAN BAGI
MASYARAKAT SEKITARNYA (KAJIAN FOLKLOR)
Kiki
Astrea, M.Pd.
Universitas
Islam Darul Ulum Lamongan
Abstract
Oral Literature is part of folklore which
is one of the cultures spread by word of mouth. This research tries to study folklore
of Ngerong Goa legend that exist in District Rengel Tuban Regency. In addition, this study will describe the structure,
myth, symbols and functions that exist in the legend of Goa Ngerong.
Qualitative descriptive approach. The data source used is the recording
obtained from the community around Goa Ngerong. The data used in the form of
stories that are written based on the recording in the can from the community
around Goa Ngerong. Data collection by specifying objects and recording. Method
of data analysis by processing, collecting data based on result of recording
then conducted recording and analysis of data to be presented. The myth that
comes up is not to eat fish coming from the cave Ngerong, because it is
considered a sacred fish. Whereas for visitors cave, will get lucky if can
bring home fish.
Abstrak
Sastra
Lisan adalah bagian dari folklor yang merupakan salah satu kebudayaan yang
penyebarannya dilakukan dari mulut ke mulut. Penelitian ini berusaha mengkaji
folklor legenda Goa Ngerong yang ada di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban.
Selain itu, penelitian ini akan mendeskripsikan struktur, mitos, simbol dan
fungsi yang ada dalam legenda Goa Ngerong. Pendekatan deskriptif kualitatif.
Sumber data yang digunakan adalah rekaman yang didapat dari masyarakat sekitar
Goa Ngerong. Data yang digunakan berupa cerita yang di tulis berdasarkan
rekaman yang di dapat dari masyarakat sekitar Goa Ngerong. Pengumpulan data
dengan menentukan objek dan melakukan perekaman. Metode analisis data dengan
mengolah, mengumpulkan data berdasarkan hasil rekamanan lalu dilakukan
pencatatan dan analisis data yang akan disajikan. Mitos yang muncul adalah tidak boleh memakan ikan yang berasal dari goa
Ngerong, karena dianggap ikan keramat. Padahal bagi pengunjung goa, akan
mendapat keberuntungan jika dapat membawa pulang ikan.
PENDAHULUAN
Masyarakat
Indonesia mempunyai beragam kebudayaan yang merupakan warisan leluhur dan
dilaksanakan secara turun temurun. Salah satu kebudayaan yang masih
dilaksanakan sampai saat ini adalah “adat-istiadat” (Purwadi, 2007:12).
Adat-istiadat adalah suatu kebiasaan yang dilaksanakan suatu masyarakat.
Kebiasaan ini terjadi karena adanya warisan leluhur yang dilaksanakan secara
turun-temurun. Kebiasaan yang diwariskan yang penyebarannya lewat mulut-ke
mulut dan tidak dibukukan bisa disebut
sastra lisan. Sastra lisan adalah bagian dari folklor Indonesia yang mempunyai
nilai-nilai luhur dalam sastra. Di Indonesia, sastra lisan masih banyak kita
jumpai. Bahkan di setiap daerah di Indonesia memiliki sastra lisan. Ada
beberapa bentuk sastra lisan, diantaranya, legenda, lagu dolanan, dongeng dan
mitos.
Istilah mitos, mite adat dongeng biasanya mengingatkan
kita pada suatu kisah atau ceritera yang aneh, janggal atau lucu, dan umumnya sulit dimengerti maknanya,
tidak dapat diterima kebenarannya, atau tidak perlu ditanggapi secara serius
isinya. Kisah tersebut umumnya dianggap sebagai hasil karya iseng saja, karena
isinya kebanyakan tidak sesuai dengan kenyataan sehari-hari (Heddy, 2012:181).
Goa Ngerong yang berada di Kecamatan Ngerong
Kabupaten Tuban menyimpan legenda dengan berbagai simbol dan mitos didalamnya,
yang membuat goa tersebut sering dikunjungi wisatawan, baik yang ingin melihat
kebentungan mereka, maupun sekadar berkunjung. Mitos yang muncul adalah tidak
boleh memakan ikan yang berasal dari goa Ngerong, karena dianggap ikan keramat.
Padahal bagi pengunjung goa, akan mendapat keberuntungan jika dapat membawa
pulang ikan.
Penelitian mitos Levi-Strauss pernah dilakukan oleh
Chusnul Chotimah pada skripsinya yang berjudul Diskursus Kasta dalam Kitab
Mahabarata Karya C. Rajagopalachari (Analisis Strukturalisme Levi-Strauss).
Penelitian ini menemukan bahwa prinsip
dasar aturan kasta adalah bersifat endogamis. Kasta membutuhkan endogamy untuk
bisa mempertahankan identitas yang berbeda dan definisi kelompok yang berbeda
pula pada kitab Mahabarata Karya C. Rajagopalachari. Berbeda dengan penelitian
tersebut, penelitian ini mendeskripsikan mitos, simbol dan fungsi yang ada
dalam Legenda Goa Ngerong yang ada di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban.
Mitos yang ada di Goa Ngerong dapat
dilihat berdasarkan Simbol yang muncul dalam legenda Goa Ngerong. Hal inilah
yang menjadi daya Tarik Goa Ngerong sehingga didatangi banyak pengunjung setiap
harinya. Kebanyakan mereka ingin melihat keberuntungan mereka, tetapi tidak
jarang juga yang datang hanya ingin melihat bentuk goa nya saja. Hal inilah
yang melatarbelakangi penelitian, sehingga sastra lisan dapat dilestarikan dan
menjadi kebudayaan yang akan terus diingat oleh masyarakat Indonesia terutama
masyarakat sekitar Goa Ngerong.
Berdasarkan
latar belakang tersebut, peneliti memfokuskan permasalahan berikut: 1) Bagaimana struktur legenda goa Ngerong di kecamatan
Rengel kabupaten Tuban?; 2) Bagaimana
simbol legenda goa Ngerong di kecamatan Rengel, kabupaten Tuban?; 3) Bagaimana mitos Legenda goa Ngerong di kecamatan
Rengel, kabupaten Tuban?; dan 4) bagaimana fungsi Legenda goa Ngerong di
kecamatan Rengel kabupaten Tuban?.
TEORI
Menurut Taum (2011:1) Claude
Lévi-Strauss (1908-2009) adalah seorang ahli antropologi danetnografi terkemuka Prancis yang dikenal sebagai
bapak antropologi modern. Pandangannya
yang utama adalah struktur pemikiran manusia purba (savagemind) sama dengan
struktur pemikiran manusia modern (civilized
mind) karena sifat
dasar manusia sebenarnya sama. Pemikiran ini dituangkannya dalam bukunya
yang terkenal Tristes Tropiques yang menempatkan Levi-Strauss
sebagaisalah satu tokoh terpenting aliran strukturalis. Gagasannya diterima di
lingkunganilmu-ilmu humaniora dan filsafat.Levi-Strauss memberikan perhatian
khusus pada mitos, yang menurutnya memiliki
kualitas logis dan bukan estetis, psikologis, ataupun religious. Dia menganggap mitos sebagai bahasa, sebuah
narasi yang sudah dituturkan untuk diketahui.
Strukturalisme
adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara
luas oleh struktur social atau psikologi yang mempunyai logika independen yang
sangat menarik berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi
Freud, strukturnya adalah psyche; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan
bagi Saussure, strukturnya adalah bahasa. Kesemua itu mendahului subjek manusia
individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada
semua keadaan ( Inglis, 1990 dalam Sobur, 2001:104). berdasar pada teori tersebut Kasnadi dan Sutejo (2010:5) berpendapat
bahwa, sebuah kajian structural dapat ditempuh dengan cara melakukan
identifikasi, pengkajian, dan pendeskripsian fungsi dan unsur intrinsic yang
membangun sebuah karya fikksi.
Penelitian
ini menerapkan teori strukturalis Levi-Strauss, analisis yang dilakukan atas
beberapa prinsip:
1.
Bahwa mitos mengandung makna-makna
tertentu. Seperti halnya mimpi individual yang harus dianalisis untuk
mengetahui maknanya, mitos atau dongeng sebagai suatu “mimpi kolektif” juga
perlu dianalisis untuk diungkapkan makna-makna kolektifnya.
2.
Dongeng juga dapat dilihat sebagai suatu fenomena
kebahasaan, yang baru dapat dipahami pesannya jika kita telah mengetahui
struktur dan makna sebagai elemen yang ada didalamnya.
Sastra
lisan adalah kesastraan yang mencangkup ekspresi kesastraan warga suatu
kebudayaan yang disebarkan dan turun temurun secara lisan, (Hutomo, 1991:1).
Sastra lisan dibagi menjadi dua bagian yaitu sastra lisan primer dan sastra
lisan sekunder. Perbedaan dari keduanya terletak pada ciri masing-masing yaitu:
Ciri-ciri
sastra lisan primer :
1.
Penyebarannya melalui mulut ke mulut
yang disebarkan baik dari segi waktu maupun ruang melalui percakapan.
2.
Lahir didalam masyarakat yang masih
bercorak desa, masyarakat diluar kota atau masyarakat
yang belum mengenal huruf.
3.
Menggambarkan ciri budaya suatu
masyarakat
4.
Tidak
diketahui siapa pengarangnya dan karena itu menjadi milik masyarakat
5.
Bercorak puitis teratur dan
berulang-ulang
6.
Tidak menenekankan fakta dan kebenaran,
lebih menekankan pada aspek khayalan atau fantasi yang tidak diterima oleh
masyarakat modern, tetapi sastra lisan meliki fungsi penting didalam
masyarakat.
7.
Terdiri atas berbagai versi
8.
Bahasa menggunakan gaya bahasa lisan
(sehari-hari) mengandung dialek, terkadang tidak lengkap (Hutomo, 1991:3-4)
Sedangkan
sastra lisan sekunder merupakan sistem produksi sastra tulis, sebagai
perwujudan, penyebar luasan informasi atau sosialisa sastra tulis. Jika dilihat
dari segi penuturnya sastra lisan dibagi menjadi dua, yaitu:
1.
Sastra lisan yang bernilai sastra
(mengandung estetika)
2.
Sastra lisan yang tidak bernilai sastra.
Sastra
lisan adalah bagian dari folklor. Istilah folklor merupakan pengindonesiaan
dari kata folklore dalam arti bahasa
Inggris yang berasal dari kata folk
dan lore. Folk memiliki pengertian kolektif. Menurut Alan Dundes,
folk adalah sekelompok orang
yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehinga dapat
dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya (Danandjaya,
1991:1)
Brunvand
(dalam Rafiek, 2010: 52-53) Folklor digolongkan menjadi tiga macam yaitu, 1)
folklor lisan, 2) folklor setengah lisan, dan 3) folklor bukan lisan. Bentuk
folklore lisan antara lain(a) bahasa rakyatseperti logat, julukan, pangkat
tradisional dan titel kebangsawanan; (b) ungkapan tradisional, seperti pepatah,
peribahasa, dan pemeo; (c) pertanyaan tradisional, seperti teka-teki; (d) puisi
rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (e) cerita prosa, seperti mitos,
legenda, dan dongeng, dan (f) nyanyian rakyat.
Legenda
merupakan bagian dari sastra lisan. Legenda goa Ngerong tidak banyak diketahui
oleh masyarakat, kebanyakan pengunjung goa Ngerong hanya ingin melihat ikan
yang berada di goa, karena menurut mitos masyarakat sekitar siapa yang dapat
melihat dan menyentuh ikan yang ada di goa Ngerong berarti mereka akan mendapat
keberuntungan. Legenda sendiri menurut
William R.Bascom Hutomo (1991:64) adalah cerita yang mirip dengan mite, yatu
yang benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite,
legenda ditokohi oleh manusia biasa walaupun adakalanya mempunyai sifat-sifat luar
biasa, atau sering juga dibantu makhluk-makhluk gaib (halus). Tempat terjadinya
legenda adalah di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Waktu terjadinya
belum begitu lampau.
Dalam penelitian ini, fokus utama adalah Simbol dan
Mitos. Simbol adalah sebuah tanda di mana hubungan antara signifier dan
signified semata-mata adalah masalah konvensi, kesepakatan atau peraturan (van
Zoest dalam Sobur, 2001:126).
Menurut Hamad (dalam Sobur 2001:140) Secara
substansi, semiotik adalah kajian yang concern dengan dunia simbol. Alasannya,
seluruh isi media massa pada dasarnya simbolik. Bahasa adalah alat komunikasi
atau alat penghubung antar-manusia. Komunikasi antarmanusia diadakan antara
lain dengan menggunakan bunyi yang dihasilkan alat ucap. Komunikasi antar umat
manusia juga dapat menggunakan bentuk lain, yaitu dengan simbol-simbol.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwa simbol adalah sebuah tanda yang dihasilkan baik berupa bunyi
bahasa maupun dengan bentuk lainnya. Selain simbol, dalam penelitian ini juga
akan meneliti mitos yang ada di goa Ngerong kecamatan Rengel kabupaten Tuban.
sebelum menganalisis hasil penelitian, akan dilakukan analisis struktur legenda
goa Ngerong untuk diketahui mitos dan simbol yang ada di goa Ngerong.
Mitos adalah
bagian dari ritual yang diucapkan, cerita yang diperagakan oleh ritual. Dalam
suatu masyarakat, ritual dilakukan oleh pemuka-pemuka agama untuk menghindarkan
bahaya atau mendatangkan keselamatan. Ritual adalah ‘cara’ yang selalu dan
setiap kali diperlukan, misalnya berkaitan panen, kesuburan, inisiasi anak muda
kedalam kebudayaan masyarakat dan kematian. Tetapi dalam pengertian yang luas,
mitos berarti cerita-cerita anonim mengenal asal muasal alam semesta dan nasib
serta tujuan hidup: penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh suatu masyarakat
kepada anak-anak mereka mengenai dunia, tingkah laku manusia, citraan alam dan
tujuan hidup manusia. Penjelasan-penjelasan ini bersifat mendidik (Wellek dan
Warren, 1995:243)
Menurut Heddy (2012:181) istilah mitos, mite adat dongeng biasanya
mengingatkan kita pada suatu kisah atau ceritera yang aneh, janggal atau lucu,
dan umumnya sulit dimengerti maknanya, tidak dapat diterima kebenarannya, atau
tidak perlu ditanggapi secara serius isinya. Kisah tersebut umumnya dianggap
sebagai hasil karya iseng saja, karena isinya kebanyakan tidak sesuai dengan
kenyataan sehari-hari.
Pada dasarnya, dongeng atau legenda menurut Vladimir Propp dalam
Endraswara (2003:155) telah memberikan rambu-rambu analisis cerita dan
fungsinya. Dia telah menemukan beberapa teori fungsi yang penting, yaitu: a)
istilah fungsi merupakan unsur dongeng sastra lisan yang paling mantap dan
tidak berubah, walaupun tokoh yang mendukung fungsi berganti; b) fungsi sastra
lisan terbatas jumlahnya, kurang lebih ada 31 fungsi; c) urutan fungsi dalam
dongeng selalu sama; d) sebuah dongeng hanya mewakili satu tipe saja jika
dilihat dari strukturnya. Fungsi tersebut selalu dikaitkan dengan perwatakan
tokoh. Perwatakan amat didukung oleh sudut pandang cerita.
METODE
Penelitian
ini bersifat kualitatif artinya yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka
melainkan kata-kata atau gambaran sesuatu. Penelitian ini juga dilakukan semata-mata
hanya berdasarkan pada fakta yang ada atau fenomena yang mungkin secara empiris
hidup pada masyarakat sehingga yang dihasilkan berupa teks lisan. Objek
penelitian ini adalah legenda Goa Ngerong yang ada di kecamatan Rengel
kabupaten Tuban. Objek penelitian didapat dari wawancara langsung dengan
informan dilapangan. Dengan teknik pengumpulan data, yaitu teknik observasi,
teknik wawancara, teknik pencatatan, teknik perekaman dan teknik dokumentasi.
Kemudian dilakukan penentuan setting
penelitian, menentukan informan, melakukan penerjemahan data,
dan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif
dan analisis isi untuk mengetahui bagaimana struktur Legenda Goa Ngerong, bagaimana
mitos legenda, bagaimana simbol legenda serta bagaimana fungsi legenda goa
Ngerong.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Struktur Legenda Goa Ngerong
Berdasarkan wawancara terhadap
Lasrip warga sekitar Goa Ngerong di kecamatan Rengel kabupaten Tuban. asal mula goa ngerong dahulunya adalah
kerajaan Gumenggeng yang ada di dusun Gumeng, desa Banjaragung, kecamatan
Rengel, kabupaten Tuban. sekitar ribuan tahun lalu raja Gumenggeng bernama
Raden Arya Bangah adalah putra dari Kyai Gede Lele Lontang. Kerajaan tersebut
berada di pegunungan kapur yang sulit mendapatkan sumber air untuk kebutuhan
sehari-hari, baik minum maupun kebutuhan lainnya. Mereka hanya mengandalkan
hujan untuk mendapatkan air. Apabila musim kemarau tiba, masyarakat susah
mendapat sumber air.
Raja Raden Arya
Bangah melakukan lelana brata atau laku batin untuk mendapatkan petunjuk dari
dewa. Akhirnya Raja mendapatkan petunjuk dari dewa untuk bersemedi di puncak
gunung di desa Andhong agar desa Gumenggeng selamat dari kekeringan. Untuk
melakukan semedi tersebut, raja mengadakan sayembara untuk seluruh masyarakat
yang sanggup melakukan semedi akan mendapat hadiah tanah. Sayembara itu tersebar ke seluruh desa da
nada satu warga yang dapat melaksanakan sayembara tersebut, dia adalah Kyai
Jala Ijo.
Kyai Jala Ijo melakukan semedi sambil mengucapkan “mandeng pucuking
grana, sedakep saluku tunggal, nutup babahan hawa songo, muji marang dzat kang
mubeng waseso”. Yang artinya memandang puncak bulan purnama bersendakap
menghadapkan jiwa dan hati ke satu tujuan yaitu Tuhan,
menutup jalan lubang Sembilan hawa nafsu memuji kepada sang maha pencipta
segala. Kyai Jala Ijo mengucapkannya dengan penuh kekhusyukan demi berharap
mendapat petunjuk dari yang maha kuasa. Hingga akhirnya dia mendapat bisikan
untuk menyungkil tanah yang masih dalam wilayah kerajaan. Kemudian Kyai Jala
Ijo mencukil tanah dengan menancapkan tongkatnya. Akhirnya tanah tersebut
mengeluarkan air dan berubah menjadi goa yang bentuknya seperti terowongan.
Terowongan dalam bahasa jawa berarti Rong
atau lubang. Demikian kenapa dinamakan Goa Ngerong yang berarti terowongan.
Air melimpah yang didapatkan dari goa ngerong membuat warga
Gumenggeng tidak lagi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan
karena keindahan bentuk goa ini, banyak warga yang berdatangan hanya sekadar
mengobati rasa penasaran terhadap goa tersebut. Apalagi semakin lama semakin
banyak hewan yang tinggal di dalam goa, seperti kelawar, ikan bader, ikan buta
dan kura-kura putih. Menurut cerita ikan-ikan yang ada di goa adalah binatang
peliharaan Putri Raden Arya Bangah.
Berdasarkan asal usul penamaan goa ngerong tersebut dapat
ditentukan struktur cerita, yaitu: (a) tokoh cerita adalah Raden Arya Bangah
adalah seorang raja, Kyai Jala Ijo adalah warga yang bersemedi untuk
mendapatkan air. Putri Raden Arya Bangah yang memelihara ikan di goa; (b) latar
cerita di sebuah kerajaan di dusun Gumeng,
desa Banjaragung, kecamatan Rengel, kabupaten Tuban, di
puncak gunung di desa Andhong agar desa Gumenggeng, dan di goa Ngerong; (c)
alur yang digunakan adalah alur maju; (d) perwatakan Raden arya Bangah adalah
raja yang baik, adil, dan peduli terhadap rakyatnya. Kyai Jala Ijo adalah warga
yang baik yang bersedia bersemedi demi mendapatkan air untuk keberlangsungan
hidup seluruh rakyat. Putri Radeng Arya Bangah adalah putri yang baik yang
mencintai binatang sebagai sesama mahluk hidup; (e) sudut pandang dilihat dari
orang ketiga yaitu membaca yang menceritakan kembali legenda goa ngeroh; (f)
amanat yang dapat dilihat dari legenda ini adalah menjadi pemimpin yang
bertanggung jawab, melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, mencintai sesama
makhluk hidup dan mengharapkan kebaikan hanya
dari Yang Maha Kuasa.
2.
Mitos
Goa Ngerong selain memiliki pesona yang indah juga
menyimpan banyak mitos. Menurut Hutomo, (1991:63) Mitos adalah cerita-cerita
suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama (religi). Di dalam goa
Ngerong ada beberapa hewan yang
tinggal di dalamnya. Air yang jernih, dalam dan mengalir membuat goa Ngerong
ditinggali beberapa binatang, seperti Kelelawar, ikan dan kura-kura. Mitos yang
muncul dalam legenda Goa Ngerong yaitu:
a.
Kyai Jala
Ijo mendapat bisikan untuk mencukil tanah yang masih di wilayah kerajaan. Beiau
mencukil tanah dengan tongkat sehingga mengalir air dari dalamnya. Mitos Kyai
Jala Ijo mendapat bisikan dapat diterima dengan nalar bahwa seorang Kyai dianggap dekat dengan Tuhan,
sehingga menjadi wakil suatu masyarakat dalam permohonan sesuatu, bahwan yang
mustahil dapat dilakukan oleh sesorang yang dekat dengan Tuhan. Penggunaan nama
Jala juga dikaitkan dengan alat
penangkap ikan. Ikan berada di air, dan di dalam goa ngerong terdapat air dan
ikan. Itulah mengapa jala digunakan dalam penamaan tokoh dalam legenda goa
Ngerong.
b.
Ikan yang
berada di goa ngerong tidak boleh dibawa pulang apalagi dimakan. Hal ini dapat
diterima dengan nalar, karena didalam goa ngerong terdapat jutaan kelelawar
sehingga apabila kotoran kelelawar termakan oleh ikan dan apabila ikan itu
dimakan manusia, maka manusia bisa saja keracunan dan mati karena memakan ikan
tersebut.
3.
Simbol
Menurut Endraswara (2003:155) aspek yang diangkat
dalam penelitian sastra lisan salah satunya adalah mengkaji pesan, dan makna
sastra lisan, yaitu nilai-nilai apa yang hendak disampaikan, simbol-simbol apa
yang digunakan untuk membungkus pesan, apakah masih relevan bagi masyarakat
sekarang. Simbol yang tampak dalam legenda goa ngerong, yaitu:
a.
Raja mendapatkan petunjuk
dari dewa untuk bersemedi di puncak gunung di desa Andhong. Puncak gunung merupakan tempat
tertinggi. Dewa adalah tataran tertinggi yang disembah dan simbol kesempurnaan
serta kemuliaan.
b.
Kyai Jala
Ijo adalah simbol bahwa Kyai adalah
orang yang dianggap dekat dengan Tuhan sehingga setiap doanya dianggap pasti
diterima oleh Yang Maha Kuasa. Jala
adalah jaring yang oleh orang Jawa digunakan untuk menangkap ikan, yang berarti
jala pastilah dapat menangkap keberkahan, sehingga jika Tuhan menurunkan
kebaikan dapat ditangkap dengan baik.
4.
Fungsi
Menurut Endraswara (2003:155) aspek yang diangkat
dalam penelitian sastra lisan, salah satunya adalah mengkaji fungsi sastra
lisan, antara lain untuk control social politik, mendidik masyarakat, menyindir
dan sebagainya. Sedangkan menurut Vladimir Propp menyatakan bahwa fungsi selalu
dikaitkan dengan perwatakan tokoh. Perwatakan amat didukung oleh sudut pandang
cerita. Berdasarkan perwatakan tokoh, dapat diketahui bahwa fungsi legenda Goa Ngerong
adalah untuk mendidik masyarakat, bahwa sebagai pemimpin harus bertanggung
jawab, melaksanakan tugas dengan baik demi kemakmuran rakyat. Dan juga
mengajarkan untuk menyayangi sesame makhluk hidup. Bisa juga dikatakan
menyindir pemimpin yang dianggap tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, agar
dapat meniru sisi baik dari legenda goa ngerong. Juga sebagai sindiran pada
orang-orang yang suka menyiksa binatang, agar menyayangi binatang sebagai
sesame makhluk hidup.
SIMPULAN
Struktur
cerita adalah : (a) tokoh cerita adalah Raden Arya Bangah adalah
seorang raja, Kyai Jala Ijo adalah warga yang bersemedi untuk mendapatkan air.
Putri Raden Arya Bangah yang memelihara ikan di goa; (b) latar cerita di sebuah
kerajaan di dusun Gumeng, desa
Banjaragung, kecamatan Rengel, kabupaten Tuban, di
puncak gunung di desa Andhong agar desa Gumenggeng, dan di goa Ngerong; (c)
alur yang digunakan adalah alur maju; (d) perwatakan Raden arya Bangah adalah
raja yang baik. Kyai Jala Ijo adalah warga yang baik. Putri Radeng Arya Bangah
adalah putri yang baik.; (e) sudut pandang dilihat dari orang ketiga; (f)
amanat yang dapat dilihat dari legenda ini adalah menjadi pemimpin yang
bertanggung jawab, melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, mencintai sesama
makhluk hidup dan mengharapkan kebaikan
hanya dari Yang Maha Kuasa. Mitos yang muncul, yaitu: (a) Kyai Jala Ijo mendapat bisikan untuk mencukil tanah yang masih di
wilayah kerajaan, beliau mencukil tanah
dengan tingkat dan keluar air mengalir padahal tanah kerajaan berada di sekitar
gunung kapur; (b) Ikan yang berada di goa ngerong tidak boleh dimakan. Simbol
yang tampak dalam legenda goa ngerong, yaitu: (a) Raja
mendapatkan petunjuk dari dewa untuk bersemedi di puncak gunung di desa Andhong. Puncak gunung merupakan tempat tertinggi.
Dewa adalah tataran tertinggi yang disembah dan simbol kesempurnaan serta
kemuliaan; (b)Kyai Jala Ijo adalah simbol bahwa Kyai adalah
orang yang dianggap dekat dengan Tuhan sehingga setiap doanya dianggap pasti
diterima oleh Yang Maha Kuasa. Fungsi legenda goa Ngerong adalah mendidik dan
menyindir. Berdasarkan penelitian tersebut diharapkan dapat mengukuhkan rasa
tanggung jawab terhadap tugas yang diemban, serta dapat meletarikan bagian dari
budaya Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Ahimsa-Putra,
Heddy Shri. 2012. Strukturalismr
Levi-Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta:UGM Press.
Danandjaja,
James. 1991. Folklor Indonesia Ilmu Gosip
Dongeng dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Grafiti.
Endraswara,
Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian
Sastra. Yogyakarta: Pustara Widyatama.
Hutomo, Suripan
Sadi. 1991. Mutiara Yang Terlupakan
(Pengantar Studi Sastra Lisan). Surabaya:HISKI
Purwadi, M. Hum.
2007. Ensiklopedi Adat Istiadat Budaya
Jawa. Jogjakarta: Panji Pustaka
Rariek, M. 2010.
Teori Sastra. Kajian Teori dan Praktik.
Bandung:Refika Aditama.
Sobur, Alex.
2001. Analisis Teks Media. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Sutejo dan
Kasnadi. 2010. Kajian Prosa (Kiat
Menyisir Dunia Prosa). Yogyakarta: Pustaka Felicha.
Taum, Yosept
Yapi. 2011. Teori-teori Analisis Sastra
Lisan: Strukturalisme Levi-Strauss. Yogyakarta:Lamalera.
Wellek, Rene dan
Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan.
Jakarta:PT. Gramedia
Subscribe to:
Posts (Atom)